WASHINGTON D.C. (NewsAndalas.com) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kekesalannya setelah mengetahui Iran hanya mengizinkan dua kapal melintasi Selat Hormuz di tengah periode gencatan senjata. Melalui unggahan di platform Truth Social pada Kamis, 9 April 2026 malam waktu setempat, Trump menilai tindakan Teheran tersebut sebagai pengkhianatan terhadap kesepakatan yang telah dibuat.
"Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!" tulis Trump menanggapi terbatasnya akses di jalur perdagangan minyak global tersebut.
Baca Juga: Italia Kecam Keras Israel Setelah Konvoi Pasukan UNIFIL Ditembaki di Lebanon
Persoalan akses Selat Hormuz menjadi poin krusial bagi Washington. Selama konflik berlangsung, Trump berambisi mengamankan jalur ini untuk menjaga stabilitas suplai minyak global serta memperkuat posisi tawar Amerika Serikat. Namun, realita di lapangan menunjukkan kendali penuh masih berada di tangan angkatan bersenjata Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyatakan bahwa pembukaan jalur aman di Selat Hormuz akan dimungkinkan selama dua minggu masa gencatan senjata melalui koordinasi ketat. Namun, situasi memanas kembali setelah Israel dilaporkan menggempur Lebanon secara brutal tak lama setelah gencatan senjata diumumkan.
Teheran mengecam keras serangan tersebut dan menganggap Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan lewat tiga poin utama: kegagalan membendung serangan ke Lebanon, pelanggaran wilayah udara Iran oleh rudal, serta penyangkalan hak pengayaan uranium. Sebagai respons, Iran mempertimbangkan untuk menutup total kembali selat strategis tersebut.
Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah Rusia Ogah Jual Minyak ke Negara Tidak Bersahabat
Berdasarkan data layanan pelacak kapal MarineTraffic, hanya dua kapal tanker yang tercatat berhasil melintas sejak pengumuman gencatan senjata. Kedua kapal tersebut adalah NJ Earth milik Yunani dan Daytona Beach yang berbendera Liberia. Keterbatasan akses ini memicu kemarahan Trump yang berharap jalur distribusi minyak segera kembali normal sepenuhnya pasca-perang.